Kekuatan Sisi Lembut Sudut Kota
Dua tahun yang lalu, aku dan sahabatku mencari lokasi shooting. Bukan
karena kami pemilik Production House, lho! Tetapi karena kami memang ada
tugas kuliah.
Atas bantuan teman, kami menemukan perkampungan kumuh yang belum pernah
dikunjungi mahasiswa mana pun. Jalan masuknya berupa gang setengah meter
di belakang perumahan mewah. Aku pikir menuju ke sungai, ternyata
disuguhi pemandangan perkampungan kumuh di bantaran sungai. Perkampungan
ini tidak besar. Di bagian kanan dan kiri kampung masih banyak pohon
besar. Perkampungan kumuh ini masih baru. Jadi ya wajar kalau banyak
yang belum tahu. Perkampungan ini ada karena penggusuran kawasan kumuh
bantaran sungai, 5 km dari sini. Loh? Bukannya mereka dapat ganti? Kalau
seperti ini hanya memindah masalah saja, kan? Pasti mereka tidak
ber-KTP sini, jadi wajar mereka terbuang sia-sia. Ya salah sendiri, lah.
"Dek, hati-hati ya. Disini kampung copet, pelacur, maling, pengamen, dan
pekerjaan jalanan lainnya!" Kata Mas Oceng (bukan nama sebenarnya)
pimpinan kampung kepada kami.
Kami sempat ragu. Dari berbagai pilihan, kami memutuskan ke seorang
janda tua yang masa mudanya menjadi pelacur, dan masa tuanya menjadi
pemulung.
Rumah disini semi permanen. Bawah dengan batu bata, atas dengan triplek.
Kanan kiri penuh tumpukan sampah kering, mungkin untuk dijual. Ah,
betapa berharganya sampah untuk mereka.
“Liy, aku janji kalau ada botol mineral langsung kukasihkan ke mereka” Kata sahabatku berkaca-kaca.
Kami sudah sampai. Dikenalkannya kami dengan Mak Ijah (bukan nama
sebenarnya). Mak Ijah tersenyum melihatku. Tidak ada kecurigannya
padahal jelas kami membawa kamera. Kami diminta masuk. Kami langsung
duduk di tempat tidur, karena tidak ada kamar tamu rumah 3x3, berdinding
dan beratapkan triplek, dan beralaskan tanah.
Mak Ijah bercerita. Dia perantau yang datang ke luar propinsi karena
hidupnya sangat miskin. Akhirnya dia terdampar disini, menjadi seorang
pelacur. Berputrikan 7, dari 7 suami yang tidak jelas semuanya. Mak Ijah
menyekolahkan semuanya dari hasil lacurnya sampai anak-anaknya SMA.
Sekarang anak-anaknya sudah menikah. Mak Ijah sudah tua. Melacur sudah
tak ada yang meliriknya. Sudah tua, tak lagi jelita. Dia akhirnya
memulung. Dia tahu melacur itu salah. Sekarang tobat. Anak-anaknya sudah
bahagia dengan suaminya. Mak Ijah malu, menanggung sendiri deritanya di
usianya yang senja. Katanya, beberapa hari yang lalu divonis gula. Ah,
Mak Ijah. Kenapa kau begitu menderita? Bagaimana jika ini terjadi dengan
orang tuaku? Aku menitikkan mata.
Katanya ini hukumannya karena perbuatan dustanya. “Dijaga ya jilbabnya.
Jangan mau kayak saya, mau dipakai laki-laki dimana-mana.” Tutupnya
dengan senyum simpul lembut.
Setelah Shubuh, kami langsung syuting dengan mengikuti Mak Ijah keliling
kawasan itu. Banyak yang sukarela memberi karena kami membawa kamera.
Kata Mak Ijah, biasanya mereka mengusir Mak Ijah bagai binatang. Sampah
pun kadang dilempar jijik kepadanya.
Ternyata pekerjaan memulung itu capek sekali. Kami pun minum
berkali-kali. Mak Ijah dengan lembutnya melayani kami. Maaf ya Mak, kami
tak bisa membantu memasak. Kami kecapekan.
"Nak, mandi dulu, jangan lupa keramas. Pasti kan bau memulung seharian." kata Mak Ijah itu lembut.
Ah Mak, aku janji kalau jadi pengambil kebijakan nanti, aku tak kan
semena-mena menggusurmu walaupun aku tahu betul ini bukan tanah yang
berhak kau tempati. Aku janji akan menempatkan orang-orang sepertimu ke
tempat dan perlakuan yang layak, Mak!
20 finalis
http://www.sunsilk.co.id/kuatnyakelembutan/detail_cerita/1006
